Published On: Kam, Mei 8th, 2014
                            

Kesbangpol Gelar Forum Komunikasi Paham Radikal

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Tanjungpinang, KepriDays.com – Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlidungan Masyarakat (Kesbangpol dan Penmas) Kota Tanjungpinang, menggelar Forum Komunikasi dan Koordinasi Penanganan Paham Radikal, Kamis (8/5) di Ballroom Hotel Bintan Plaza KM. 3, Kota Tanjungpinang.

Dalam penyampaiannya, Kepala Badan (Kaban) Kesbangpol dan Penmas Kota Tanjungpinang, Adnan mengatakan, tujuan menggelar acara ini dimaksudkan untuk tidak menyebar luasnya cara pemikiran paham radikal yang dianggap sangat berbahaya bagi masyarakat di Kota Tanjungpinang.

“Berbahaya dalam arti kata, merusak sisi-sisi kebersamaan antar umat beragama, budaya dan menghapus kebiasaan kultular yang terjadi di Kota Tanjungpinang, agar tidak terjadi Konflik yang berkelanjutan,” ucapnya.

Maka itulah, lanjut Adnan, Kesbangpol dan Penmas Kota Tanjungpinang melakukan Forum Komunikasi ini, serta mendatangkan narasumber yang sudah berpengalaman dibidangnya, seperti, Kementrian Dalam Negeri (Kemendagri) Republik Indonesia (RI) bidang Kesbangpol, Prof. Saudi, Kementrian Agama (Kemenag) RI, Prof. Didi, Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Provinsi Kepri, Polres Kota Tanjungpinang dan Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Tanjungpinang.

“Dari forum inilah, narasumber dan peserta yang merupakan dari FKUB, FKDM, FPK, Ormas, OKP, Tokoh Masyarakat, sekitar 200 orang lebih bersatu padu memahami agar tidak terjadinya perpecahan akibat paham radikal yang semakin terasa saat ini di Kota Tanjungpinang,” ujarnya.

Sementara, terkait Paham Radikal yang ada di Kota Tanjungpinang, salah satu narasumber Kemendagri RI bidang Kesbangpol, Prof. Saudi menjelaskan, potensi yang masuk masih sangat kecil. Berbeda dengan situasinya, seperti, di Jakarta, Papua dan kota-kota besar lainnya.

“Kondisi memaksakan kehendak atau yang disebut paham radikal disini belum terasa kuat, masih bisa d antisipasi. Salah satunya dengan cara saling menghargai satu sama yang lainnya, walaupun berbeda budaya,” katanya.

Jangan, lanjut Saudi, budaya yang dimiliki seseorang disuatu daerah itu, dipaksakan harus mengikuti budaya yang bukan menjadi ciri khas dari daerah itu. “Contoh begini, mohon maaf ya, saya orangnya berbudaya Jawa, daerah disini masyarakat budaya Melayu, saya paksakan orang disini harus menjadi budaya Jawa. Ya otomatis tidak mungkin, seharusnya pendatanglah yang harus berbaur ke budaya disini, itulah contoh kecil paham radikal,” jelasnya. (RNN)

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.
                            

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>