Published On: Ming, Apr 12th, 2015
                            

Bahasa Menunjukan Bangsa

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Oleh:
Agus Rahmanda
Mahasiswa FKIP-UMRAH

Batavia (Jakarta), 27 hingga 28 Oktober 1928 menjadi saksi sejarah perjuangan rakyat Indonesia. Cucuran keringat dibalas sudah dengan kemenangan. Ikrar yang berisikan ketegasan ingin menjadi tanah air yang utuh, tanah air Indonesia, ingin menjadi bangsa yang utuh, bangsa Indonesia, serta ingin memiliki bahasa yang utuh, yakni, Bahasa Indonesia.

Begitulah gambaran semangat pejuang terdahulu yang tercantum pada prasasti di dinding museum Sumpah Pemuda. Bertumpah darah, rela dipanah dalam mempertahankan tanah air, demi mewujudkan harapan menjadi tanah air satu, tanah air Indonesia. Hal yang tidak dirasakan saat ini. Cemoohan terhadap bangsa sendiri, cemoohan terhadap bahasa sendiri. Kalau dahulu pejuang Indonesia berkata ‘Aku rela mati demi membela negeri’, tidak dengan ucapan masyarakat sekarang, yang berucap ‘Aku akan mati tanpa trendi’.

Tutur halus yang diucapkan oleh pejuang terdahulu. Rasa bangga, rasa cinta, serta rasa setia yang teramat dalam pada Bahasa Indonesia menjadikan bangsa ini memiliki jati diri. Tidak demikian halnya dengan keadaan masyarakat kita sekarang, banyak di antaranya yang memilih fasih berbahasa asing tanpa mempedulikan Bahasa Indonesia.

Lebih parahnya lagi, para orang tua justru bangga jika nilai bahasa asing anaknya di sekolah lebih baik daripada nilai mata pelajaran Bahasa Indonesia. Inilah yang menyebabkan bangsa ini selalu bergantungan dengan bangsa lain, tidak pernah mandiri. Jika dibandingkan dengan negara-negara besar seperti, Rusia, masyarakat Indonesia dapat dikatakan memiliki gengsi yang lebih tinggi untuk mengakui bahasanya sendiri, mereka lebih suka memadukan bahasa Indonesia dengan bahasa asing dengan alasan tidak ingin ketinggalan tren masa kini.

Berbeda halnya dengan Rusia, masyarakatnya jarang menggunakan bahasa asing, bahkan mereka lebih bangga menggunakan bahasanya sendiri. Hal-hal demikian dapat kita jumpai di berbagai tempat seperti papan nama gedung-gedung bertingkat, bahkan jarang sekali terdapat penunjuk arah di bandara internasional menggunakan Bahasa Inggris yang merupakan bahasa internasional.

Ada pula gambaran suasana negara Rusia yang dikutip dari tulisan Dahlan Dahi yang menceritakan bahwa sopir taksi di Rusia tidak mampu berbahasa Inggris seperti halnya sopir taksi di Indonesia. Bedanya, sopir taksi kita malu kalau tidak bisa berbahasa Inggris. Sebaliknya, sopir taksi Rusia bangga menggunakan Bahasa Rusia. Kemudian ada pula kejadian unik dari pimpinan Novotni, kantor berita Rusia, yang terbata-bata menggunakan Bahasa Inggris didepan forum WAN-IFRA di Amsterdam Belanda.

Meskipun terlihat beberapa, mereka tetap percaya bahwa Rusia adalah bangsa besar yang memiliki bahasa yang baik seperti bangsa lainnya. Begitulah gambaran masyarakat Rusia, mereka bangga menjadi bangsa Rusia. Tidak bisa berbahasa Inggris justru bagus karena menandakan cita rasa Bahasa Rusia mereka.

Inilah yang kemudian menjadikan Rusia menjadi negara yang mandiri. Dan kalau kita berbicara masyarakat sekarang, kepedulian terhadap Bahasa Indonesia sangat menipis. Artinya banyak yang beranggapan bahwa Bahasa Indonesia tidak penting. Sering terdengar cemoohan terhadapnya. Lebih parah lagi jika dihubungkan dengan mata pelajaran yang menyangkut Bahasa Indonesia.

‘Ah, ngapain lagi sih belajar Bahasa Indonesia? toh dari kecil juga sudah bisa kok berbahasa Indonesia’. Begitulah kira-kira cemoohan yang muncul pada saat ini. Padahal jika diperluas, Bahasa Indonesia buka sekadar ejaan yang menjadi alat komunikasi bagi bangsa ini. Jika dari segi bahasa saja kita tidak mampu menjaga kemurniannya, bagaimana kita mau menjaga budaya yang ada di negeri kaya ini?

Jika mata pelajaran matematika, kimia, fisika, dan biologi bisa diperlombakan, mengapa para pembesar kita tidak melaksanakan perlombaan-perlombaan terkait pelajaran Bahasa Indonesia? cukupkah kita bangga dengan kemampuan generasi kita yang hanya memahami ilmu alam? seberapa besar rasa bangga, cinta, serta setia kita terhadap bahasa pemersatu kita? kita hidup dari tanah Indonesia, maka berbanggalah jika kita mampu menyuburkan tanah kelahiran kita kemudian mati dengan timbunan tanah negeri ini.

Tidak sedikit orang-orang pembesar kita yang masih salah dalam menggunakan Bahasa Indonesia. Tidak jarang mereka kesulitan merangkai kata demi kata yang benar dalam menggunakan Bahasa Indonesia. Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, dari bahasa kita belajar mengenal satu sama lainnya, dari bahasa kita menjadi satu, dan dari bahasa kita memiliki jati diri.

Bahasa itu racun, racun yang dapat menjadikan seseorang terlihat baik atau buruk. Dengan bahasa kita berdiri, bahasa pula penunjuk ciri, dan dengan bahasa kita mandiri. ***

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.
                            

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>