Published On: Sen, Jul 6th, 2015
                            

Pengemis Menyerang Gurindamku Tercinta

Dian Fadila. Foto:Ist
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Oleh:
Dian Fadillah
KETUA PKBM SUARA LAMPION

Ramadhan sudah berjalan sepenggal bulan, sudah masuki belahan sepuluh putaran ke dua. Kondisi seperti ini membuat kita pun harus bergerak melakukan sesuatu persiapan yang diperlukan, seperti, mencari info tentang berapa jumlah pembayaran zakat fitrah yang akan disetor termasuk tentang zakat amal.

Disamping bulan Ramadhan yang terus berjalan, maka melengkapi kebutuhan-kebutuhan lebaran itupun harus dipersiapkan dengan maksimal, diantaranya, untuk bahan buat kue, pakaian lebaran termasuk hal-hal yang diperlukan lainnya yang tidak bisa untuk diabaikan.

Seiring dengan itu, makanya setiap orang apalagi ayah atau ibu sebagai pimpinan sebuah keluarga harus keluar rumah dengan membawa anggota keluarganya untuk mengunjungi Swallayan, Supermarket mulai dari Pasar rakyat sampai dengan pasar modern.

Dalam proses perjalanan itu banyak dilihat dan ditemukan pengemis dan gelandangan yang seolah-olah muncul bagaikan cendaewan tumbuh dari tanah mendatangi dengan pose dan gaya yang memang mendukung penampilan.

Sebagai ilustrasi bahwa Arti kata pengemis menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah orang yang meminta-minta (seorang pengemis didapati tidur di bawah jembatan) dan ada juga yang tidak memiliki tempat tinggal. pengemis adalah orang-orang yang mendapatkan penghasilan dengan meminta-minta di muka umum dengan pelbagai cara dan alasan untuk mengharapkan belas kasihan dari orang lain. (Anon., 1980).

Humaidi, (2003) menyatakan bahwa gelandangan berasal dari kata gelandang yang berarti selalu mengembara, atau berkelana (lelana). Arus urbanisasi ke Kota besar di Kabupaten Kota Provinsi dan kota-kota lainnya seperti Batam, Semarang, Denpasar, Surabaya, Bandung, dan Jakarta semakin besar seiring dengan pertumbuhan ekonomi regional.

Di sisi lain, kesempatan kerja yang tersedia dan peluang berusaha di Kota besar, ternyata tidak mampu menampung pelaku-pelaku urbanisasi karena keterbatasan keterampilan yang dimiliki didaerah asal, sehingga menimbulkan salah satu masalah yaitu terjadinya pengemis.

Memang Kemiskinan merupakan suatu ketidaksanggupan seseorang untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan dan
keperluan-keperluan materialnya (Oscar, dalam Suparlan, 1984). Dalam proses dinamikanya, budaya kemiskinan ini selanjutnya menjadi kondisi yang memperkuat kemiskinan itu sendiri. Keadaan tersebut di atas memberikan indikasi bahwa kemiskinan merupakan penyebab dan sekaligus dampak, dimana masing-masing faktor penyebab sekaligus dampak untuk dan dari faktor-faktor lainnya atau penyebab sirkuler (Rajab, 1996).

Sementara itu, Harris (1984) mengatakan bahwa kemiskinan disebabkan karena keterbatasan faktor-faktor geografis (daerahnya terpencil atau terisolasi, dan terbatasanya prasarana dan sarana), ekologi (keadaan sumber daya tanah/lahan, dan air serta cuaca yang tidak mendukung), teknologi (kesederhanaan sistem teknologi untuk berproduksi), dan pertumbuhan penduduk yang tinggi dibandingkan dengan tingkat penghasilannya.

Chambers (1983) mengemukakan, bahwa sebenarnya orang-orang miskin
tidaklah malas, fatalistik, boros, dungu dan bodoh, tetapi mereka sebenarnya
adalah pekerja keras, cerdik dan ulet. Argumennya dilandasi bahwa mereka
memiliki sifat-sifat tersebut karena untuk dapat mempertahankan hidupnya dan melepaskan diri dari belenggu rantai kemiskinan.

Berdasarkan pada hasil penelitian dari Ir. Gede Sedana, M.Sc. MMA sebagai pengamat sosial menyampaikan bahwa terdapat beberapa faktor penyebab terjadinya aktivitas mengemis yaitu faktor yang ada di internal individu dan keluarga, internal masyarakat, dan eksternal masyarakat, yaitu di kota-kota tujuan aktivitas mengemis. Faktor-faktor penyebab ini dapat terjadi secara parsial dan juga secara bersama-sama atau saling mempengaruhi antara satu faktor dengan faktor yang lainnya :

1. Faktor Internal

Atau dengan kata lain, mereka mengatakan juga bahwa tiada jalan lain selain mengemis untuk memperoleh penghasilan guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Sikap mental yang malas ini juga didorong oleh lemahnya kontrol warga masyarakat lainnya atau adanya kesan permisif terhadap kegiatan menggelandang dan mengemis yang dilakukan oleh warga karena keadaan ekonomi mereka yang sangat terbatas. Sementara di sisi lain, belum dimilikinya solusi yang tepat dalam jangka pendek bagi mereka yang menjadi pengemis. Keadaan yang demikian ini juga turut memunculkan dan sedikit menjaga adanya budaya mengemis yang terjadi.

2. Faktor Eksternal / Lingkungan.

Faktor lingkungan yang dimaksudkan adalah beberapa faktor yang berada di sekeliling atau sekitar responden baik yang di daerah asal maupun di daerah tujuan di antaranya adalah kondisi hidrologis, kondisi pertanian,kondisi prasarana dan sarana fisik,akses terhadap informasi dan modal usaha,
kondisi permisif masyarakat di kota, kelemahan pananganan di kota.
Urbanisasi ke Kota semakin besar seiring dengan pertumbuhan ekonomi regional.

Di sisi lain, kesempatan kerja yang tersedia dan peluang berusaha
di Kota termasuk kota-kota lainnya ternyata tidak mampu menampung
pelaku-pelaku urbanisasi karena keterbatasan keterampilan yang dimiliki didaerah asal sehingga menimbulkan salah satu masalah yaitu terjadinya
pengemis. Dalam Al-Quran Surat Al_Baqarah ayat 195 dikatakan
وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu
menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah,
karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”
Beberapa waktu yang lalu di Jakarta – Menteri Sosial (Mensos) Khofifah Indar Parawansa menemukan hal yang mengejutkan terkait kelompok pengemis. Di salah satu desa di Jawa, ada salah satu desa yang warganya dikoordinir menjadi pengemis.Pengemis di desa itu menjadi mata pencaharian.

Bahkan ada seorang sarjana yang menjadi kepala pengemis dan melakukan pengaturan.“Bahkan Ada satu desa dimana anaknya pun sudah jadi sarjana tapi jadi komandan atau Koordinator pengemis,” jelas
Khofifah di Rutan Pondok Bambu, Jaktim. “Ini menjadi mindset yang menjadi bagian dari suatu pekerjaan. Kalaupun seperti itu keadaannya pasti ada mafianya. Karena ada kultur masyarakat yang menjadi bagian dari pekerjaan,” imbuhnya.

Tak hanya di Jatim, di Jabar juga ada hal yang serupa. Ada desa yang penduduknya menjadikan pengemis sebagai pekerjaan utama.“Misalnya Jabar ada 5 kabupaten, dan desa-desa itu mereka menjadikan pengemis jadi bagian pekerjaan,” tuturnya.

Informasi lain juga yang dapat disampaikan Berdasarkan sebuah cerita yang diperoleh dari seseorang yang besar di keluarga pengemis, berkarir sebagai pengemis, dan sekarang jadi bos puluhan pengemis. Dari jalur minta-minta itu, dia sekarang sudah punya dua sepeda motor, sebuah mobil mahal, dan empat rumah dan sampai saat ini menjadi bos bagi sekitar 54 pengemis di sebuah Kota Besar Setelah puluhan tahun mengemis, sekarang memang bisa lebih menikmati hidup.

Sejak 2000, dia tak perlu lagi meminta-minta di jalanan atau perumahan. Cukup mengelola 54 anak buahnya, uang mengalir teratur ke kantong, setiap hari, dia mengaku mendapatkan pemasukan bersih Rp. 200 ribu hingga Rp 300 ribu. Berarti, dalam sebulan, dia punya pendapatan Rp 6 juta hingga Rp 9 juta dan sudah punya rumah di kawasan elit yang didirikan di atas tanah seluas 400 meter persegi dan sudah membangun dua rumah lagi.

Satu untuk dirinya, satu lagi untuk emak dan bapaknya yang sudah renta. Selain itu, ada satu lagi rumah yang dia bangun di luar kota dan untuk bepergian beliau memiliki dua sepeda motor Honda Supra Fit dan sebuah mobil Honda CR-V kinclong keluaran 2004 berwarna biru metalik. Dari penghasilannya itu mampu untuk diberikan sebagian nafkah kepada Mesjid atai Mush tempat singgah dan tercatat sebagai donatur tetap.

Sedangkan pengemis yang beroperasi dibeberapa titik kota “harus” ditanggulangi atau ditangani sehingga mereka tidak lagi tertarik untuk menjadi pengemis di kota, karena tidak akan memperoleh penghasilan lagi.

Oleh karena itu, pemecahan masalahnya harus mencakup dua aspek yaitu Kondisi di daerah asal dan Kondisi daerah tujuan. Prinsipnya adalah upaya pencegahan dilakukan di daerah asal sehingga mereka tidak terdorong untuk meninggalkan desanya dan mencari penghasilan di kota dengan cara membuka pekerjaan di desa.

Sementarta di sisi lain, prinsipnya adalah penanggulangan yaitu di tempat tujuan “harus” ditanggulangi atau ditangani sehingga mereka tidak lagi tertarik untuk menjadi pengemis di kota, karena tidak akan memperoleh penghasilan lagi dimana seharusnya mereka masih bisa mencari uang sebagai mata pencaharian seperti pemulung, tukang semir sepatu, tukang becak, penjaja makanan, dan pengamen. Kita tidak pernah tau kapan negara Indonesia kita ini akan makmur dari jauh dari kemiskinan. Dilema ini bagaikan tali yang tak berujung. Cobalah merujuk pada Hadits yang disampaikan Muslim dikatakan bahwa :
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ عَنْ مَالِكِ بْنِ أَنَسٍ فِيمَا قُرِئَ عَلَيْهِ عَنْ نَافِعٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ وَهُوَ يَذْكُرُ الصَّدَقَةَ وَالتَّعَفُّفَ عَنْ الْمَسْأَلَةِ الْيَدُ
الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنْ الْيَدِ السُّفْلَى وَالْيَدُ الْعُلْيَا الْمُنْفِقَةُ وَالسُّفْلَى السَّائِلَةُ

Tangan yg di atas lebih baik daripada tangan yg dibawah. Tangan di atas adakah tangan pemberi sementara tangan yg di bawah adl tangan peminta-minta. (HR. Muslim No. 1715)***

222 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.
                            

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>