Published On: Rab, Jul 1st, 2015
                            

Lampu Fanos Cahaya Ramadhan dan Fitri

Dian Fadila. Foto:Ist
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Oleh:
Dian Fadillah
Wakil Ketua DPD Mapancas Kepri

Ramadhan sudah berjalan dari poros waktu awalnya. Ramadahan sudah berada di persimpangan jalan. Ramadhan yang sudah kita lewati merupakan perjalanan yang masih harus dilanjutkan karena memang belum berakhir.

Ramadahan merupakan tamu agung yang selalu dinanti-nanti kehadirannya setiap tahun. Secara serentak umat Islam di seluruh dunia termasuk Indonesia dengan bergegas menyambut moment yang paling besar ini dengan berbagai cara.

Penyambutan yang dilakukan bak emas jatuh dari langit dengan melakukan berbagai macam kegiatan. Ada yang melakukan penyambutan dengan mengundang makan orang sekampung dan paling sedikit orang-orang yang berdomisili di dekat rumah dengan memberikan jamuan yang berselera dalam makanan minuman, ada juga yang menambahnya dengan mainan hiasan dan lain-lain.

Meskipun ramadhan memang tidak hanya berkaitan dengan yang berbau spiritual: puasa, shalat tarawih, tadarus Al-Quran, sedekah. Tapi juga budaya dan tradisi yang tumbuh dan berkembang di tengah umat Islam secara kemajemukan di seluruh belahan dunia, termasuk dipenuhi dengan pernak-pernik yang menarik untuk diamati.

Hal yang sama juga terjadi di Mesir sebagai negeri yang memilkit tradisi dan kebiasaan yang nyaris berbeda dengan negeri Islam lainnya, seperti, di Timur Tengah yang dikenal dengan negeri Firaun yaitu dengan pemandangan yang paling unik adalah Fanus (lampu Ramadhan), Ajwamaidaturrahman (hidangan gratis untuk berbuka puasa), Kunafa dan Qathayif (makanan khas Ramadhan), Musahharati (orang yang bertugas membangunkan kaum Muslimin untuk makan sahur), lagu-lagu Ramadhan dan meriam Ramadhan yang dibunyikan ketika waktu magrib tiba.

Sementara tata cara pelaksanaan
ibadah, meskipun tidak jauh beda dengan negeri lain, tetap saja menyimpan berbagai keunikan bahkan akan selalu berkesan di hati para
penduduk dan pelancongnya. Memasuk hari-hari pertama di bulan Ramadhan biasanya masyarakat Mesir atau Egypt memilki sebuah ungkapan khas yang terucap yakni “Ramadhan karim, kullu amin wa antum bi khair”.

Kalimat ini tak hanya terucap dari lisan tapi juga bertebaran di lembaran-lembaran serta terpampang jelas di berbagai tempat umum yang ada sepanjang perjalanan mata memandang. Ucapan yang mengungkapan kebahagiaan dan kegembiraan mereka dalam menyambut bulan suci ini.

Fanoos atau ada juga yang menyebut FANUUS merupakan sebuah lampu yang tidak pernah ketinggalan menghiasi
malam-malam Ramadhan. Fanus merupakan lampu lampion kalau pada perayaan Imlek pada Perayaan Hari Raya Cina dengan lampu yang dirumahkan, mirip dengan tanglong (lampu Cina). Biasanya fanus dibuat dari kaca tipis yang berwarna warni dan lilin didalamnya.

Sepanjang malam-malam Ramadhan, masjid-masjid, jalan-jalan dipenuhi oleh festival cahaya yang warna warni. Bagi anak- anak kecil suasana ini amat
menyenangkan. Mereka biasanya bermain di jalan-jalan sambil menenteng Fanus dalam ukuran kecil dan menyanyikan lagu wahawi ya wahawi dengan fungsi sebagai alat penerang pada malam hari untuk pergi ke mesjid atau mengunjungi kerabat.

Sejarah Fanous (lentera) dan Mesaharaty ini berawal dari masa Fatimid di Mesir. Berdasarkan dari beberapa sumber mengatakan bahwa
penggunaan lentera ini dapat dilacak mulai sampai tahun 392 Hijriah. Di masa itu dapat dikisahkan bahwa masyarakat Mesir membawa lentera untuk menyambut kedatangan khalifah baru Al Muis Liddin Allah di gerbang kota Kairo.

Pada cerita yang lain disampaikan bahwa wanita yang berjalan di luar rumah pada era Fatimid ini akan selalu ditemani oleh seorang anak laki-laki yang membawa lentera, untuk mengingatkan kepada para pria untuk tidak menggoda. Setelah tradisi ini hilang ditelan waktu, ternyata lentera tidak, mereka tetap ada dan dipergunakan untuk hiasan.

Tapi masa-masa selanjutnya fungsi fanus berubah menjadi mainan dan hiasan. Kebiasaan unik ini sudah bermula sejak 5 Ramadhan 358 Hijriah
dan sekarang sudah mengalami banyak perkembangan. Pada tahun-tahun terakhir muncul berbagai bentuk baru Fanus yang diimpor dari Cina
dan Taiwan.

Fanus-fanus yang terbuat dari kaca saja melainkan ada juga yang dari plastik. Peran lilin pun telah digantikan oleh bohlam yang dinyalakan dengan baterai. Ukurannya bermacam-macam, mulai dari yang sangat kecil yang bisa digunakan sebagai gantungan kunci, sampai ukuran yang sedang dan besar. Wassalam. ***

232 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.
                            

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>