Published On: Jum, Mei 13th, 2016
                            

Ini Temuan Baru dari Penelitian Megastruktur Borobudur

Borobudur : Ist/Net
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Tanjungpinang, KepriDays.com – Kemegahan Borobudur sebagai candi Budha terbesar di Indonesia, dibangun dengan geometri fraktal.

Perhitungan yang baru ditemukan kembali pada abad ke-20 itu merupakan cabang ilmu Matematika. Pendirian megastruktur kuno tersebut dengan cara menyusun batuan dengan pola perulangan tertentu.

Ilmuwan dan peneliti dari Bandung Fe Institut, Hokky Situngkir mengatakan, kesan rumit Candi Borobudur berangkat dari konsep sederhana.

Tanpa hitungan rumit membangun konstruksi seperti zaman sekarang, nihil maket, dan diduga tanpa gambar sketsa, pembangunnya membuat candi seperti pembatik melukis kain.

“Dengan pola bentuk berulang untuk mengisi ruang,” kata Hokky, dikutip dari media nasional.

Diketahui Bandung Fe Institut cukup lama melakukan riset lapangan secara rinci di Borobudur. Hasil data seperti foto, video, dan hasil pengukuran, diolah menjadi simulasi di komputer.

Bangunan pejal yang dibangun antara abad ke- 8 dan 9 itu diperkirakan bervolume 55 ribu meter kubik, yang terdiri dari sekitar 2 juta balok batu. “Zaman itu belum ada sistem pengukuran (metrik) standar, dan mereka tidak butuh itu jadi ukuran,” ujar peneliti di Center for Complexities, Surya University itu.

Bukti yang diperoleh Bandung Fe, bentuk candi situs peninggalan sejarah dunia itu kurang simetris. Pada bagian bawah sisi utara dan selatan yang masing-masing sepanjang 120 meter lebih, ada beda selisih sekitar 10 meter.

Menurut Hokky, pembangunan Borobudur dimulai dengan pemasangan batu mengitari bukit. Balok-balok batu itu kemudian disusun bertahap selapis demi demi selapis hingga puncak bukit.

Antara bagian kaki atau Kamadhatu, tubuh (Rupadhatu), dan kepala (Arupadhatu), ketinggiannya berskala 4:6:9. Perbandingan itu kata Hokky, menyesuaikan ketebalan susunan batu terbawah. Susunan batu kemudian diukir pemahat.

“Kalau menurut saya bukan diukir dulu di bawah, bisa bingung memasangnya kalau tanpa gambar desain,” ujarnya.

Pola susunan berulang batu Candi Borobudur dari kajian Hokky, mirip dengan aturan atau kode nomor 816 dari 1.024 pola pada cellular automata. Cellular automata merupakan sehimpunan proses fundamental penciptaan pola-pola keteraturan karya fisikawan Stephen Wolfram dengan menggunakan komputer yang hasil akhirnya sangat menyerupai bentuk di alam.

Ciri khas fraktal lain seperti wujud candi yang samar antara dua atau tiga dimensi, muncul juga pada Borobudur. Menurut Hokky, candi bisa terlihat datar seperti lukisan dua dimensi, tapi pada titik penglihatan lain dan pengaruh sorotan cahaya matahari dapat terlihat sebagai bangunan tiga dimensi.

Ciri lain perulangan pola dengan ukuran besar atau kecil, yakni bangunan stupa yang seperti lonceng genggam. “Hingga secara keseluruhan, Borobudur tampak seperti stupa raksasa,” kata Hokky.

Teknologi konstruksi kuno berbasis fraktal itu, kata Hokky, dijumpai pula pada beberapa candi seperti Prambanan. Bandung Fe masih merencanakan riset lanjutan di Borobudur, yaitu tentang relief candi dan pola pemasangannya. (TIM REDAKSI)

189 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.
                            

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>