Published On: Sel, Jun 9th, 2015
                            

Eksistensi Demo di Era Sekarang?

Dian Fadilah. Foto: Ist
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Oleh:
Dian Fadillah
Wakil Ketua DPD Mapancas Kepri

Haruskah demo? Mengapa harus demo? Apakah tidak ada cara lain menyampaikan aspirasi? Apakah memang yang namanya demo sudah merupakan alternatif yang paling terakhir? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu mungkin selalu menghiasi benak kita, siapapun dan kapanpun juga apalagi pada saat sesuatu keinginan dan harapan dirasa berbeda 360 derajat, maka demo atau unjuk rasa itulah yang menjadi solusinya.

Apakah hal itu ada dipikiran kita, mungkin sebagai karyawan terhadap Kepala atau Pimpinannya, apakah buruh terhadap perusahaannya. Demo itu dapat terjadi karena harapan dari kenyataan penilaian suatu kinerja berhubungan dengan diri seseorang atau instansi yang dianggap ‘terlalu melenceng dan merugikan’ secara berkesinambungan untuk orang banyak.

Apabila itu dilihat dari hal ikhwal yang namanya demo atau yang dikenal masyarakat dengan istilah ‘unjuk rasa’ adalah bahwa demontrasi itu memiliki arti ‘pernyataan protes yg dikemukakan secara massal dengan cara berkumpul, berbondong-bondong mengadakan — menentang percobaan. Pergerakan itu
dilakukan dengan menentang suatu pihak atau seseorang dengan berdemonstrasi atau malah lebih lagi dengan mempertontonkan kepada orang ramai’.

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, bahwa Demonstrasi atau demo memiliki kegunaan lainnya dari kedua kata tersebut, seperti di hampir seluruh pelosok negeri luar ataupun dalam, apakah tentang kubu dari negara yang memimpin, atau bisa terjadi dalam pelecehan seksual terhadap pihak lain. Contoh Ilustrasi demonstrasi terhadap minyak gas dan listrik.

Unjuk rasa atau demonstrasi (demo) adalah merupakah sebuah gerakan protes yang dilakukan sekelompok orang kecil atau jumlah yang besar di hadapan umum, biasanya dilakukan untuk menyatakan pendapat kelompok tersebut dengan menentang kebijakan yang dilaksanakan suatu pihak atau dapat juga dilakukan sebagai sebuah upaya penekanan secara politis oleh kelompok atau simpatisan/konsituen tertentu.

Kegiatannya ini pada umumnya dilakukan oleh kelompok pelajar (skop intern), mahasiswa dan orang-orang yang tidak setuju dengan pemerintah dan yang menentang kebijakan atau para pekerja/buruh yang tidak puas dengan perlakuan majikannya (skop ekstern), akan tetapi juga bisa dilakukan oleh kelompok-kelompok lainnya dengan tujuan tertentu lainnya.

Apabila suatu domonstrasi atau Unjuk rasa dilakukan, apakah kita sadar secara penuh reaksi yang dilihat setelah itu semua terjadi? apakah itu dalam bentuk fisik, yaitu, pengrusakan terhadap benda-benda yang harusnya masih bisa difungsikan (kendaraan, rumah atau fasilitas lain yang mendukung), malahan hal ini dapat terjadi akibat keinginan lebih dalam menunjukkan sikap keseriusan pengunjuk rasa yang berlebihan.

Eksistensi era di zaman reformasi ini sudah mulai di tandai dengan runtuhnya rezim orde baru pada tahun 1998 yang telah membukakan gerbang baru perpolitikan Indonesia, dengan implementasi demokrasi secara totalitas. Semangat itu menghantarkan rakyat Indonesia membangun kembali tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. The Real Implementation Democration Era di tandai dengan pengesahan Undang-Undang nomor 9 Tahun 1998 yang menyatakan, bahwa kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum adalah hak asasi manusia yang dijamin oleh Undang Undang Dasar 1945 dan Deklarasi Universal Hak-hak Asasi Manusia.

Undang-Undang nomor 9 tahun 1998 tentang kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum ternyata menjadi hadiah terbesar negara kepada masyarakat Indonesia setelah lebih dari 30 tahun suara rakyat di bungkam oleh kejamnya zaman otoritarian ala orde baru. Hal ini menjadi titik balik kebangkitan masyarakat Indonesia dalam menyikapi dan mengkritisi kesurutan krisis ekonomi/krisis moneter yang terjadi di negara Indonesia.

Berdasarkan Undang-Undang itulah kritikan berupa tindakan persuasif maupun repsesif yang tidak berhenti dilakukan oleh massa, baik dari kalangan kelompok masyarakat, ormas-ormas, simpatisan partai atau mahasiswa yang telah mewarnai perjalanan reformasi Indonesia. Otokritik yang seringkali dijadikan tindakan/gerakan ideal oleh kelompok-kelompok masyarakat atau mahasiswa yang sebenarnya adalah aksi demonstrasi sebagai kontrol sosial dari semua pihak.

Seperti, pengacara, polisi, politisi dan ilmuan terhadap pemerintah dengan tujuan melakukan kritikan terhadap pemerintah dalam menangani distabilitas perekonomian dan pemerintahan di tubuh negara Indonesia.

Apabila dilihat dari alasan-alasan dasar demo itu terjadi karena:

1. Terjadi dikarenakan adanya perbedaan pendapat yang akan menimbulkan suatu polemik atau kontroversi yang baru di antara suatu kelompok.

2. Karena kesenjangan sosial, inilah dapat memunculkan suatu aksi pembangkangan warga negara (civil society).

3. Dari permasalahan inilah lahir sebuah causa gerakan-gerakan pembangkangan yang kita kenal dengan istilah demonstrasi.

Demonstrasi merupakan salah satu wujud nyata kepedulian masyarakat khususnya mahasiswa terhadap perkembangan dan nasib bangsa ini. Demonstrasi juga menjadi pertanda bahwa masih ada aspirasi masyarakat yang tidak tersampaikan. Aksi demonstrasi pada umumnya dilakukan dengan membawa massa dengan jumlah tertentu dengan membawa baleho (back drop), poster, spanduk dan mimbar yang diikuti alat perasa berupa bendera, body painting, kandang atau malahan keranda mayat yang diisi dengan pocong secara replika atau hidup.

Unjuk rasa ini biasanya didahului dengan pawai keliling (long march) atau Long walk dari suatu tempat menuju lokasi orasi. Hal itu bisa diikuti dengan berpidato bergantian penuh semangat, berapi-api, dan agak emosional. Isi poster, spanduk maupun pidato umumnya mengkritik dan menunjukkan keprihatinan atas perkembangan situasi ekonomi akhir-akhir ini, sehingga mereka menuntut agar pemerintah melakukan perbaikan (reformasi, renovasi) ekonomi dan politik agar keadaan menjadi lebih cepat membaik.

Demonstrasi biasanya secara majemuk dilakukan di kota-kota kecil dan ada juga yang hampir di seluruh kota-kota besar di Indonesia. Memang mahasiswa sebagai kaum intelektual dengan pola pikir yang benar berusaha memberikan pembenaran dengan cara turun ke jalan untuk melakukan aksi yang dasar, tujuannya untuk menyatakan pendapat menentang kebijakan yang dilaksanakan suatu pihak.

Unjuk rasa juga dapat dilakukan sebagai sebuah upaya penekanan secara keseluruhan untuk upaya sebagai perpanjangan tangan masyarakat yang terkadang apriori dengan fasilitas umum yang selalu miris dan menyesakan. Namun, rencana demo harus lapor kepada aparat Kepolisian terdekat? itulah langkah persuasif yang dilakukan untuk menghindari kefatalan yang mungkin terjadi.

Apakah side effect dari demo yang dilihat secara signifikan?

1. Tragis : adanya yang meninggal dunia.

2. Sedang : adanya yang terluka baik itu ringan ataupun berat.

3. Ringan : diwarnai dengan bentrokan yang menimbulkan korban luka-luka.

Hal-hal diatas jelas merupakan effect negatif yang dilihat oleh semua masyarakat, apakah itu orang tua apalagi contoh yang tetap tidak baik bagi pelajar dan anak-anak di bawah umur? Apakah memang begitu semua hasil dari demo yang dilakukan?

Apakah tidak ada demo yang sehat, apalagi kalau masing-masing pihak memahami tugas dan tanggungjawab? tapi kapan ya hal itu akan jadi nyata? kami butuh hidup yang aman dan damai di Tanah Melayu ini tanpa melihat suku agama dan etnis manapun itu. Sampai kapan masyarakat Indonesia di hadapkan dengan polemik fasilitas masyarakat yang sudah terlalu jauh dari harapan. Miris dari sebagian masyarakat bahwa ‘Sudah zaman hidup sekarang susah, harga semua pada naik, dan ujung-ujungnya masyarakat lagi yang selalu kena getahnya’.***

389 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.
                            

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>