Published On: Jum, Jun 24th, 2016
                            

Dilematis Tarik-Menarik Profesi Pengemis

Dian Fadila. Foto Ist
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Oleh:
Dian Fadilla
Ketua Sanggar Lembayung Tanjungpinang

Bulan suci Ramadhan sedang berjalan dan seiring dengan itu menanti untuk datangnya lebaran. Suatu waktu gembira yang sangat diharapkan umat Muslim terutama yang dapat menjalankan puasa sebulan penuh dan mengerjakan segala amalan dan perintah dengan maksimal.

Di sisi lain kita juga melihat aktivitas yang meningkat di pingggir-pinggir jalan, di lampu merah serta di pusat-pusat perbelanjaan modern ataupun tradisional. Kita lihat secara langsung pengemispun sudah mulai meningkatkan fluktuasi kegiatannya untuk mencari uang dan makan.

Apabila kita bicara profesi, maka dipikiran kita akan terbayang suatu skill yang kuat untuk melakukan suatu pekerjaan dengan spesiikasi tertentu. Terbersit suatu kehandalan dalam menyelesaikan apapun tingkat kesulitan di bidang yang ditekuninya.

Karena sudah pasti dalam menjalankan profesi itu akan ditemukan seseorang yang mempunyai sertifikat kompetensi sebagai nilai tambah yaitu adanya pengakuan secara nasional atau internasional. Apakah yang ada di pikiran pengemis yang intensitas tinggi di jalanan itu?

Tidak terpikir dibenak kita untuk suatu bidang pekerjaan yang satu ini yaitu Beggar (dalam bahasa sesuai dengan EYD Bahasa Indonesia yaitu pengemis. Artinya minta, berarti seseorang yang karena suatu daya dan upaya tidak memiliki keahlian dan mempunyai kesulitan dalam mencari kehidupan yang layak terutama untuk suatu hal makan dan minum.

Saya tidak tahu mengapa orang-orang akan berpikir melakukan kegiatan meminta-minta. Apabila dililhat dari tingkat kemuliaan seorang manusia di sisi Allah swt Tuhan Yang Maha Segala-galanya, maka posisi tangan diatas sebenarnya lebih baik dan terpuji daripada posisi tangan dibawah.

Artinya memberikan sesuatu kepada orang lain lebih mulia daripada menerima sesuatu dari orang lain. Pengemis itu membalikkan kalimat tadi dengan alasan karena begitu banyak orang yang ingin memberi maka mereka lebih memilih untuk menerima dengan situasi tangan yang dibawah.

Mereka tidak perduli dengan tenaga masih ok, badan masih kuat, diberikan tubuh yang lengkap. Mereka tidak ingat larangan untuk kita meminta karena termasuk perbuatan yang kurang terpuji dan pemalas. Hal itu benar-benar harus diperhatikan keberadaanya.

Kalau dilihat sebuah kegiatan mengemis saat ini, sudah merupakan sebuah profesi yang terkoordinis dari tahun ke tahun, yang boleh dikatakan profesionalitas sebagai bentuk kemandirian ….

Bayangkan dengan mengemis maka penghasilan mereka bisa mencapai Rp. 3 sampai Rp. 5 juta perbulan (seperti yang dilansir media televisi nasional) baru baru ini, malahan ada yang berangkat mengemis mengendarai mobil). Wow …

Maknyos. Sebuah penghasilan dan standarisasi yang patut dipertimbangkan dan menjadi pilihan sebagai sebuah profesi ? Hal itu berarti kegiatan mengemis sekarang sudah merupakan suatu profesi baru dalam pola entrepreneur di tengah-tengah masyarakat yang modern.

Sebutlah namanya N g e m i s bahasa kerennya. Tempat favorit+favorit itu dilakukan di halte, di persimpangan, di lampu merah, di rumah-rumah ibadah, di Pasar, di Mall dan di pusat keramaian dengan berbagai dalil dan berjuta alasan ….

Ada yang KDRT, dipukuli dan diusir suaminya atau anaknya, sampai anak dibawah umurpun jadi korban untuk mendapatkan penghasian dibawa kemana-mana dengan kereta dorong. Alasan lain yang banyak dijawab mereka adalah tak ada rumah karena terbakar, dengan berbagai macamlah alasannya.

Begitu rendahkah pola prilaku kita sehingga kita senang melakukan kegiatan mengemis itu, atau malah kita senang melihat kegiatan itu berseliweran di depan mata tanpa sedikitpun terusik. Mungkin itu yang perlu kita sikapi secara serius, karena bisa jadi mereka itu ada yang mengakomodir sebagi Leader (pemimpin) dengan sistem antar jemput ke TKP.

Saya bingung bagaimana kota-kota besar di Jawa dann Bali dapat mensiasati masalah sosial itu dengan mendidik dan mengajarkan anak-anak itu untuk menjauhi pekerjaan mengemis dalam wadah yang jelas dalam PKBM sebagai suatu muatan lokal yang melihat masalah itu secara serius.

Mereka diberikan pengajaran praktek untuk membuat keterampilan, bukan oraktek lapangan bagaimana cara mengemis yang baik dan benar! Bagaimanapun mengemis bukan suatu pekerjaan yang mulia karena itu dilaknat Allah swt.

Mereka itu sebenarnya hebat dan mereka itu perlu diangkat derajat dan martabatnya secara bersama-sama, sehingga kita tidak melihat lagi adanya pengemis di Tanjungpinang dan sekitarnya. Mari kita pikirkan bersama. Yang penting sekarang lebih baik kita bekerja mengeluarkan keringat untuk mencari nafkah dengan bekerja mati-matian apalagi bekerja di teriknya matahari banting tulang demi mendapatkan upah harian hanya Rp. 30 ribu, Rp. 40 ribu atau Rp. 50 ribu.

Kalaulah dilakukan maka kehidupan akan berkah dan barokah. Masyarakat bekerja, daerah bahagia dan negara akan bangga sebagai negara yang hebat. Karena itu adalah pilihan hidup. ***

272 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.
                            

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>