Published On: Ming, Okt 30th, 2016
                            

Cuaca Ekstrim Rusak Terumbu Karang

Keindahan Bawah Laut Bintan. Foto : Edventure Fotografy
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Bintan, KepriDays.com – Terumbu Karang di perairan Kabupaten Bintan mengalami pemutihan atau kerusakan (coral bleaching) sebesar 12 persen. Kemungkinan besar kerusakan Terumbu Karang disebabkan oleh gangguan lingkungan dan naiknya suhu permukaan air laut.

Hal ini didapati oleh Coral Reef Rehabilitation and Management Program-Coral Triangle Initiative (COREMAP-CTI).

Menurut Penanggung Jawab Coral Reef Rehabilitation and Management Program COREMAP-CTI Kabupaten Bintan, Sarvidin, dari hasil monitoring dalam beberapa bulan ini, pihaknya mendapati adanya kerusakan pada terumbu karang sebesar 12 persen.

“Dalam menjalankan program COREMAP-CTI di Kabupaten Bintan, kita melakukan monitoring secara rutin tiap bulannya dengan menyelam ke beberapa titik perairan. Diantaranya Perairan Pantai Trikora, Desa Berakit, Kawasan Wisata Lagoi, Desa Mapur, Pulau Beralas Pasir, Pulau Penyusuk, Kelurahan Kawal, dan Desa Pengudang,” tutur Sarvidin, Ahad (30/10) beberapa waktu lalu.

Sedangkan dari hasil monitoring, Sarvidin menuturkan, bahwa pihaknya mendapati sebagian besar Terumbu Karang mengalami kerusakan, akibat faktor lingkungan sekitar dan kondisi cuaca ekstrim yang terjadi saat ini.

“Sebab Terumbu Karang hanya dapat hidup dalam batas toleransi suhu berkisar dari 20-30 derajat celsius dan juga tergantung dari penyesuaian, serta daya tahan terhadap suhu air laut rata-rata daerah dimana terumbu karang itu hidup,” terang Sarvidin.

Kemudian, sambungnya, Terumbu Karang ini cenderung memutih atau rusak apabila suhu meningkat tajam dalam waktu yang singkat atau suhu meningkat, perlahan-lahan dalam jangka waktu yang panjang.

Lalu, juga disebabkan oleh gangguan alam lainnya seperti tingginya tingkat sinar ultra violet, perubahan salinitas secara tiba-tiba, kekurangan cahaya dalam jangka waktu yang lama dan penyakit.

“Bahkan bisa juga disebabkan oleh faktor pengganggu lainnya seperti kegiatan manusia, mencakup sedimentasi, polusi dan penangkapan ikan dengan bahan peledak,” timpal Sarvidin.

Sementara, Sarvidin menjelaskan, bahwa proses pemutihan Terumbu Karang identiknya dengan perubahan warna pada jaringan karang dari warna alaminya, yang kecoklat-coklatan atau kehijau-hijauan menjadi warna putih pucat.

Jika sudah mengalami ciri-ciri seperti ini dapat dipastikannya Terumbu Karang akan mati selamanya. “Walaupun Terumbu Karang ada yang rusak, ketersediaan ikan masih cukup melimpah. Apalagi jarak pandang 6-10 meter. Maksudnya bisa dikatakan perairan Bintan minim pencemaran,” beber Sarvidin.

Terpisah, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Bintan, Elizar Juned membenarkan adanya pemutihan Terumbu Karang di beberapa titik perairan.

Namun penyebabnya bukan dikarenakan kegiatan yang dilakukan manusia, melainkan murni dari kenaikan suhu permukaan air laut

“Awal April dan Mei pasti cuaca ekstrim akan melanda Bintan, sehingga banyak Terumbu Karang yang rusak. Namun dalam tiga atau empat bulan kedepan, Terumbu Karang pasti pulih kembali,” katanya.

Sedangkan, lanjut dia, agar Terumbu Karang di perairan Bintan tetap terjaga, Coral Reef Rehabilitation and Management Program COREMAP-CTI Kabupaten Bintan akan melakukan survey monitoring rutin setiap bulan ataupun paling lama tiga bulan sekali.

“Kita berharap tak ada gangguan baik suhu permukaan maupun aktivitas nelayan yang berbahaya. Sehingga Terumbu Karang tetap terjaga,” ungkap Elizar. (CR13)

633 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.
                            

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>